Perlukah Adanya Audit Eksternal ?

     Istilah audit eksternal mungkin sudah sering kita baca atau dengar. Namun, tidak semua memahami apa yang dimaksud dengan audit eksternal. Muncullah beberapa pertanyaan, seperti “Apa sih yang dimaksud dengan audit eksternal?” atau “Bukannya audit internal saja sudah cukup, ya?” Untuk menutupi rasa penasaran kalian, yuk simak artikel ini dengan baik!

     Audit eksternal dapat diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan yang bertujuan untuk menguji dan menilai kewajaran suatu pembukuan atau catatan secara berkala dari suatu entitas yang dilakukan oleh pihak ketiga secara independen. Auditor eksternal biasanya bekerja untuk lembaga/kantor akuntan publik (pihak ketiga). Auditor eksternal pada sektor publik yang paling terkenal di Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Selain BPK, terdapat KAP dengan bentuk badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan yang anggotanya menjadi auditor eksternal maupun internal di suatu entitas. Tujuan adanya auditor eksternal adalah untuk memberikan opini dalam melakukan auditing di suatu entitas secara independen. Dengan begitu, entitas yang bersangkutan dapat mengetahui apakah laporan keuangan tahunannya telah disajikan dalam kondisi riil yang mencerminkan keadaan entitas tersebut.  

     Di samping istilah audit eksternal, dikenal juga istilah audit internal. Audit internal merupakan suatu fungsi penilaian independen di dalam organisasi untuk menguji serta mengevaluasi aktivitas yang telah dilaksanakan. Audit internal dalam suatu organisasi tidak diwajibkan. Namun, ada beberapa entitas yang diwajibkan untuk memiliki auditor internal. Dalam pemerintahan Indonesia sendiri, terdapat lembaga negara yang melaksanakan tugas audit internal, yaitu Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Gambar 1 Perbedaan Audit Internal dan Audit Eksternal

     Perbedaan paling mendasar antara audit internal dan audit eksternal adalah auditor internal menjadi bagian integral (tidak terpisahkan) dari organisasi di mana klien utama mereka adalah manajemen, dewan direksi, dan dewan komisaris, termasuk komite-komite yang ada. Auditor internal biasanya merupakan karyawan organisasi yang bersangkutan sehingga membuat pihak eksternal mengira bahwa auditor internal kurang independen. Perbedaan selanjutnya adalah auditor internal melakukan review terhadap aktivitas organisasi secara berkelanjutan (sepanjang tahun), sedangkan auditor eksternal biasanya secara periodik/tahunan.

     Lalu, seberapa pentingkah audit eksternal itu? Salah satu contoh pentingnya audit eksternal adalah kasus audit umum yang dialami oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Kasus PT KAI berawal dari perbedaan pandangan antara manajemen dan komisaris, khususnya Ketua Komite Audit. Komisaris menolak untuk menyetujui dan menandatangani laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor eksternal. Komisaris juga meminta untuk dilakukan audit ulang agar laporan keuangan dapat disajikan secara transparan dan sesuai dengan fakta yang ada. Alasan mendasar terjadinya kasus ini adalah kerumitan laporan keuangan PT KAI. Salah satu hal yang turut berperan dalam masalah laporan keuangan PT KAI Indonesia adalah tidak adanya peran aktif dari auditor internal, hanya auditor eksternal yang berperan dalam proses audit. Selain itu, miskomunikasi juga terjadi antarpihak yang berwenang. Terlepas dari pihak mana yang benar, permasalahan ini tentunya didasari oleh tidak berjalannya fungsi check and balances yang merupakan fungsi substantif dalam perusahaan. Hal yang terpenting adalah mengidentifikasi kelemahan yang ada sehingga dapat dilakukan penyempurnaan untuk menghindari munculnya permasalahan yang sama di masa yang akan datang.

Gambar 2 PT KAI

     Dengan adanya berbagai masalah rumit yang dihadapi oleh PT KAI, terdapat beberapa solusi yang dapat dijadikan referensi untuk memperbaiki kondisi yang telah terjadi. Pertama, perlunya sinergi yang baik antara Dewan Komisaris dan Dewan Direksi dalam memilah informasi yang ada. Kedua, selain mengandalkan auditor internal, komite audit juga memerlukan opini dari auditor eksternal. Ketiga, tidak mengulangi kesalahan-kesalahan berulang pada tahun-tahun sebelumnya. Terakhir, perlunya budaya pengawasan dalam perusahaan melalui internalisasi.

     Pada kasus audit yang dialami PT KAI di atas, terlihat bahwa membangun komunikasi yang baik dan membangun kepercayaan antar-pejabat terkait sangat diperlukan. Alasan yang paling mendasar adalah karena komite audit terlalu mengandalkan auditor internal. Padahal, seperti yang sudah kita bahas di atas, auditor internal dinilai kurang independen dalam melakukan review atau audit sehingga dibutuhkan auditor eksternal.

     BK KM PKN STAN sendiri sudah memiliki auditor eksternal, yaitu Badan Audit Kemahasiswaan (BAK). Sama seperti halnya lembaga pemerintahan yang lain, BK KM PKN STAN juga memerlukan auditor eksternal untuk bisa menjamin independensi dari kinerja setiap organisasi. Apalagi, pada saat ini, banyak BK KM seperti Organisasi Daerah dan Badan Otonom yang mendapatkan dana untuk melakukan kegiatan operasional yang berasal dari hibah. Karena BK KM ini rata-rata tidak memiliki auditor internal, maka BAK sangat berperan aktif dalam melakukan audit pada beberapa BK KM ini.

     Jadi, audit eksternal dapat menjadi salah satu hal yang penting bagi pihak-pihak eksternal organisasi. Dengan audit eksternal, catatan dan laporan yang disusun oleh suatu organisasi dapat akuntabel atau dapat dipertanggungjawabkan ke masyarakat luas. Apalagi, terdapat beberapa instansi dan lembaga pemerintahan yang biaya operasionalnya berasal dari masyarakat sendiri. Dengan begitu, masyarakat dapat lebih mengerti kinerja pemerintah dan juga dapat menambah kepercayaan mereka atas uang yang disumbangkan kepada negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *