Integritas Auditor, Pondasi Pengawasan Keuangan Negara

       Sering kita dengar profesi auditor, bukan? auditor memiliki tugas untuk memeriksa  laporan suatu entitas, lalu membandingkan kondisi yang terjadi dengan kriteria yang ada. Untuk menjadi auditor tentunya diperlukan kredibilitas, profesionalitas, dan integritas karena auditor memiliki peran penting dalam pengawasan pengelolaan keuangan negara. Tak jarang temuan BPK menjadi pintu masuk bagi penegak hukum. Oleh karena itu, mereka yang melanggar standar dan kriteria yang telah ditetapkan, akan berusaha agar auditor tidak mengangkat kesalahan yang mereka lakukan karena jika kesalahan tersebut terbongkar, mereka akan mendapat sanksi dari pelanggaran yang dilakukan.


    Contoh kasus kongkalikong antara auditor dan auditee yang terjadi adalah kasus yang menyeret mantan Anggota IV BPK RI, Rizal Djalil, yang memimpin pemeriksaan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Rizal diduga menerima suap dari Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama, Leonardo Jusminarta Prasetyo, sebesar Rp 1,3 miliar dalam bentuk dolar Singapura. KPK membuka penyidikan baru dengan dua tersangka yaitu Rizal dan Leonardo. Kasus suap ini mulai ditemukan ketika terjadi perbedaan jumlah temuan, dan setelah diselidiki lebih lanjut, hal ini terjadi karena ada pesan dalam rangka permintaan uang dari pemeriksa.


 BPK tidak tinggal diam dalam menanggapi beberapa kasus suap anggotanya. Hal ini dibuktikan dengan penjelasan Wakil Ketua BPK, Bahrullah Akbar, bahwa terdapat Inspektorat Utama yang memeriksa hasil audit BPK sebagai quality control dan quality assurance dengan menyiapkan rancangan-rancangan pemeriksaan dalam satu tahun, dan ada juga majelis kehormatan kode etik yang menangani kasus-kasus pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh pegawai maupun pimpinan BPK.

 Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang auditor memang harus berintegritas tinggi. Meskipun kasus-kasus suap tersebut mengatasnamakan oknum yang terlibat, bukan mengatasnamakan BPK, tetapi tetap saja akan berpengaruh bagi seluruh organisasi. Seperti istilah noda setitik yang berada di atas kertas putih, maka kertas putih itu tidak lagi bersih seperti sebelumnya. Sama seperti BPK, meskipun yang terlibat hanya oknum tertentu, namun masyarakat awam ketika mendengar hal ini akan mempertanyakan profesionalisme anggota BPK.

 BPK perlu meningkatkan pengendalian internal dan penguatan integritas bagi seluruh anggotanya untuk menghapus kasus-kasus suap di masa mendatang. Karena kejahatan yang dilakukan oleh auditor akan membawa dampak negatif yang lebih besar, mengingat kemampuan auditor yang tinggi sehingga kejahatan tersebut cenderung sulit untuk dideteksi.

 Bagi generasi muda penerus bangsa, sangat perlu untuk menjaga integritas dan menerapkan pelajaran kejujuran yang telah dijunjung di kampus kita tercinta. Negeri ini perlu mereka yang berintegritas bukan hanya pintar tapi penuh dusta/sandiwara.


 Jadi guys, ingat ya, ketika kita melakukan kesalahan, rasanya memang tak ingin untuk diungkapkan agar tidak mendapat hukuman tapi ingatlah bahwa dampak dari perbuatan negatif kita itu dapat merugikan orang lain atau pihak ketiga yang tidak ikut melakukan kesalahan. Lantas, masihkah kita ingin berbuat curang dan menuruti keinginan atau ego pribadi dengan tidak memikirkan orang lain? Masihkah kita berusaha menyembunyikan kesalahan itu ketika melihat negeri yang tidak terlibat ini ikut merasakan kerugiannya? Tentu tidak bukan? Ikutilah aturan yang ada agar tidak malu untuk membongkar pelanggaran yang tercipta. Janganlah kita silau dengan gemilang harta, tetap bersyukur dengan harta yang kita punya, tetap tanamkan kejujuran dan integritas dalam jiwa, karena menjadi orang yang bermanfaat lebih mulia, daripada menjadi orang yang mendapat segala keinginannya namun menyengsarakan orang lain akibat tindakannya. ~ASAP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *